Wednesday, 10 July 2013

sikap

SIKAP (ATTITUDE)
Dra Wiwiek MSi

Pengertian :

“Attitude is a favourable or unfavourable evaluative reaction to ward something someone, exhibited in one’s belief, feeling or intended behavior ( Myer)

“an attitude is a disposition to respond favourably or unfavourably to an object, person, institution or event (Azjen)

Thurstone dan Osgood    Sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan
Sikap ---> evaluasi terhadap dunia sosial
Karena sifatnya evalusi maka sangat dipengaruhi oleh apa yang telah disimpan di memory.
Sikap seseorang terhadap obyek adalah perasaan mendukung (favorabel)  atau memihak ataupun perasaan tidak mendukung (unfavorabel) obyek tersebut.

Thurstone  sikap adalah derajad afek psoitif atau afek negatif yang dikaitkan dengan suatu obyek psikologis.
Gordon Allport  sikap merupakan semacam kesiapan untuk bereaksi terhadap sesuatu obyek dengan cara-cara tertentu.
Kesiapan dalam definisini disini diartikan sebagai kecenderungan potensial untuk bereaksi apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya respon.
Kelompok teori Kognitif
Sikap  sikap merupakan konstelasi komponen kognitif, afektif dan konatif yang berinteraksi dalam memahami, merasakan dan berperilaku terhadap suatu obyek.

Dari definisi tersebut dapat disimpulkan ciri khas sikap :
 1. Mempunyai obyek   ( orang, perilaku, konsep, situasi, benda, program dsb)
 2. Mengandung penilaian ( setuju-tidak setuju; suka-tidak suka )
 3  Mempunyai arah  ( postif dan negatif )
 4. Memiliki derajad perasaan   penilai individu tehdap obyek sikap tidak hanya positif-negatif saja tetapi juga ada penilaian “ cukup”, “kurang”

Mengapa Sikap Penting ?
1. sikap akan sangat kuat mempengaruhi pikiran terhadap situasi sosial. “cara” kita berfikir tentang informasi sosial dan proses-2 informasi sosial. Oleh karena itu sikap sering berfungsi sebagai “Skema”
Skema - Cognitif frameworks yang dibentuk dan organisasi informasi tentang konsep-konsep spesifik, situasi atau kejadian
Sikap bertindak sebagai skema- sangat berpengaruh.
2. Sikap mempengaruhi tingkah laku

FUNGSI SIKAP
Hollander mengatakan setidaknya ada 2 fungsi penting dari sikap yaitu :
1. menyediakan dasar atau kerangka untuk menginterpretasi dunia dan memproses informasi-2 baru
2. merupakan cara untuk mendapatkan dan mempertahankan identitas sosial

Triandis mengemukakan :
1. Membantu orang untuk memahami dunia di sekelilingnya, dengan mengorganisir dan menyederhanakan masukan yg sangat kompleks dari lingkungan.
2. Melindungi harga diri orang dengan memungkinkan mereka menghindar dari kenyataan-2 yg kurang menyenangkan sehubungan dengan diri mereka
3. Membantu orang menyesuaiakan diri dalam dunia yg komplek, dengan membeuat mereka cenderung bertingkah laku ttt untuk memaksimumkan ganjaran-2 positif dari liungkungan
4. Memungkinkan orang untuk mengekspresikan nilai-2 atau pandangan-2 hidupnya ygt dasar

Terbentuknya Sikap
Sikap  adalah sesuatu yang dipelajari bukan bawaan.
a. Classical Conditioning --- belajar didasarkan asosiasi
Banyak penelitian menunjukkan ketika kata-kata netral dihadirkan dengan dipasangkan dengan stimulus yang menghasilkan reaksi negatif yang kuat (shock listrik) maka kata-2 netral mendapatkan kapasitas untk mendatangkan reaksi yang favorabel atau unfavorable.
Jika reaksi evaluatif terletak pada inti sikap, berarti sikap kearah stimulus netral yang mendahului (UCS)diperoleh melalui klasikal konditioning.
Seorang anak kecil melihat ibunya mengerutkan dahi dan menunjukkan tanda-2 ketidaksenangannya setiap ibu bertemu anggota kelompok ras ttt.
Pertama : anak masih netral terhapa kelompok tesebut dan mereka terlihat dari (warna kulit, gaya bajunya dan tindakannya)
Setelah ia melihat karakteristik tesebut dipasangkan (asosisasi) dengan reaksi emosional ibunya yang negatif maka klasikal konditioning terjadi. Secara berangsur-angsur  anak menjadi bereaksi secara negatif terhadap stimulus sehingga iapun menjadi anggota kelompok rasial.
b. Melalui Modeling / Social Learning
Melakukan observasi tindakan orang lain.
c. Social Comparasion
Suatu tendensi seseorang untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Untuk memastikan apakah pandangan sendiri  terhadap reaksi sosial –benar atau salah
Proses social comparasion memberi kontribusi untuk pembentukan sikap baru,  kita tidak berpegang pd sikap sebelumnya.



KOMPONEN SIKAP
Ada 3  komponen sikap :
a. Kognitif
Berupa apa yang dipercayai oleh pemilik sikap. Mann (1969) komponen ini berisi persepsi, kepercayaan dan stereotipe yang dimiliki individu.
b. Affektif
Komponen ini berkaitan dengan perasaan seseorang terhadap suatu obyek sikap.
c. Konatif
Kecenderungan bertingkah laku.
HUBUNGAN SIKAP dengan PERILAKU
Ketiga komponen itu saling terkait, selaras dan konsisten. Artinya apabila  dapat mengetahui kognisi dan perasaan seseorang terhadap obyek sikap maka dapat pula diketahui kecenderungan perilakunya.
Tetapi kenyataan tidak selalu suatu sikap tertentu berakhir dengan perilaku yang sesuai dengan sikap tersebut.
Hal ini karena :
1. Tingkah laku adalah hasil tidak saja dari satu sikap tetapi juga dari situasi saat itu.
2. Sikap yang relevan bagi suatu situasi sering  berasal dari berbabagai sikap.
Tingkah laku sebagai fungsi sikap dan situasi.


.








Contoh :  Seseorang istri yang pro pada partai tertentu  akan memilih partai itu ketika pemilu.
                Tetapi suaminya adalah seorang pegawai negeri  yang harus memilih partai X
                Akibat tekanan suami--. > istri akan mengikuti suami.


Sedang Fishbein daan Ajzen, mengemukakan bahwa , kita tidak dapat  melihat sikap dari suatu perilaku atau peristiwa saja, melainkan kita harus melihatnya dari rata-rata timbulnya perilaku tersebut pada peristiwa-peristiwa sejenis dalam satu kurun waktu tertentu.

Sedangkan Fishbein dan Ajzen mengemukan teori REASONED ACTION untuk mejelaskan hubungan sikap dengan perilaku sebagaimana bagan dibawah ini :




















                                           
Theory of Planned behavior

Dari bagan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
Niat/intensi untuk berperilaku ditentukan oleh dua hal yaitu : 1) sikap  dan 2) norma subyektif tentang perilaku tersebut.

Sikap ditentukan oleh dua hal yaitu : 1) kepercayaan /keyakinan tentang konsekuensi-konsekuensi dari perilaku dan 2) evaluasi terhadap konsekuensi-konsekuensi tersebut untuk diri subyek sendiri.

Norma subyektif ditentukan oleh 1) pendapat tokoh atau orang lain yang berpengaruh atau tokoh panutan tentang obyek sikap. 2) seberapa jauh subyek akan mengikuti pendapat orang tersebut.

Namun hasil penelitian ternyata bahwa intensi atau niat untuk berperilaku tidak  dengan sendirinya menjadi perilaku karena masih tergantung pada faktor lain yaitu kendala-kendala yang dipersepsikan oleh oarang yang bersangkutan dapat menhambat paerilaku (faktor situasi).


FAKTOR-FAKTOR PEMBENTUK SIKAP
Azwar mengemukakan beberapa faktor yang  mempengaruhi pembentukan sikap yaitu :
- Pengalaman pribadi
- Kebudayaan
- Orang lain yang dianggap penting
- Media massa
- Institusi atau lembaga pendidikan dan lembaga agama.

Pengalaman Pribadi.
Apa yang kita alami akan membentuk penghayatan terhadap stimulus osisla. Tanggapan akan menjadi salah satu dasar pembentukan sikap. Untuk dapat mempunyai tanggapan dan penghayatan, seseorang harus memepunyai pengalaman yang berkaitan dengan obyek.
Pengaruh orang lain yang dianggap penting.
Pada umumnya individu cenderung untuk memilih sikap yang konformis atau searah dengan sikap orang yang dianggapanya penting. Kecenderungan ini dimotivasi oleh keinginan untuk berafiliasi dan keinginan untuk menghindari konflik dengan orang yang dianggap penting tersebut.
Pengaruh kebudayaan.
Kebudayaan memberikan corak pengalaman individu-indiviudu yang menjadi anggotanya sehingga akan pula mewarnai sikap.
Media massa
Media massa mempunyai pengaruh dalam pembentukan opini dan kepercayaan seseorang.
Lembaga pendidikan dan agama
Kedua lembaga ini  berperan dalam meletakkan dasar pengertian dan konsep tentang moral dalam diri individu.

PERUBAHAN SIKAP
Kelman mengemukakan ada 3 proses sosial yang mempengaruhi perubahan sikap yaitu:
a. Kesediaan
Ketika inidvidu bersedia menerima pengaruh dari orang lain atau dari kelompok lain karena berharap untuk memperoleh reaksi atau tanggapan positif dari pihak lain. Kalau ini yang melatar belakangi  perubahan sikap tidak akan bertahan lama.
Tetapi kalau kesediaan itu berasal dari dalam hati  perubahan sikap akan tahan lama.
b. Identifikasi
Proses identifikasi terjadi apabila individu meniru perilaku atau sikap seseorang atau kelompok karena sikap tersebut sesuai dengan apa yang dianggapnya sebagai hubungan yang menyenangkan antara dirinya dengan pihak lain.
Identifikasi ini sering terjadi bukan karena sikap yang ditiru itu  hanya untuk memelihara hubungan tetapi  terbentuk karena sikap itu membawa kepuasan hubungan dengan pihak lain.
c. Internalisasi
Internalisasi terjadi apabils indivdiu menerima pengaruh dan bersedia bersikap menuruti pengaruh itu dikarena sikap tersebut sesuai dengan apa yang ia percayai dan sesuai dengan sistem nilai yang dianutnya


BEBERAPA TEORI ORGANISASI SIKAP
Meskipun sikap tidak dpat digunakan untuk memprediksi perilakunya dengan akurasi yang tinggi, tetpi sikap tetap mendasari bentuk-bentik perilaku yg konsisten . Secord dan Backmen, 1964 mengemukan salah satu karakterisktik yg selalu ada dalam pikiran manusia adalah kecenderungan untuk konsisten.
Sevagai contoh  jika kita tidak menyukai seseorang maka kita cenderung untuk menilai jelek semua hal pada dirinya.

1. TEORI KESEIMBANGAN HEIDER (Balance Theory)
Keadaan kesimbangan atau ketidakseimbangan selalu melibatkan  3 unsur yaitu Individu (I), Orang Lain (O) dan Obyek (Ob)

Keadaan seimbang  menunjuk pada situasi dimana hubungan diantara unsur-2 yg ada berjalan harmonis sehingga tidak terdapat tekanan untuk mengubah keadaan.
Keseimbangan akan tercapai bila hubungan diantara ketiga unsur tersebut ditujukkan oleh tanda +++ atau ditunjukkan oleh tanda --+.
Contoh :bial dua orang berteman ( + untuk hubungan I dan O) dan keduanya memiliki sikap serupa terhadap rokok ( + I dengan Ob dan + O dengan Ob) - +++
Tetapi jika salah satu berubah sikap sehingga diperoleh tanda ++- maka keadaan menjadi tidak seimbang, misal hubungan I denga Ob menjadi -.
Tetapi jika kemudian O menjadi bersikap – terhadap Ob maka dperoleh tanda +-- - maka menjadi kondisi keseimbangan
“ diantara dua unsur, suatu keadaan seimbang akan terjadi apabila hubungan diantara keduanya adalah positif atau negatif.
Dianttara tiga unsur, keadaan seimbang akan terjadi apabila ketiga hubungan semuanya positif dari semua segi atau bila diantaranya negatif dan satu positif”
Namun teroinya Heider memiliki keterbatasan dalam penerapannya.


2. TEORI DISONANSI KOGNITIF
teori  Disonansi Kognitif Festinger.
Festinger  memperhatikan bahwa sikap seseorang pada umumnya konsisten dan orang itu berbuat sesuatu yang sesuai dengan sikapnya, berbagai tindakannyapun akan bersesuaian satu sama lain. Oleh karena itu seseorang cenderung untuk tidak akan mengambil sikap-sikap yang bertentangan satu sama lain.   Sikap Konsonan

Teori Disonansi kognitif - apa yang terjadi bila ada ketidaksesuaian diantara sikap dan antara sikap dengan perilaku atau kenyataan.

Jika disonansi terjadi maka akan mengakibatkan timbulnya keadaan yang tidak menyenangkan, tidak enak konflik.

Festinger  yang dimaksud dengan unsur (kognisi) adalah setiap pengetahuan, opini atau kepercayaan mengenai lingkungan, mengenai diri sendiri atau mengenai perilakunya. Sedang disonnasi  menggambarkan inkonsistensi antara dua atau lebih unsur kognitif.

Disonansi kognitif hanya dapat terjadi pada unsu-unsur kognitif yg relevan atau yang ada
hubungannya satu sama lain.
Misal : seorang pejalan kaki merasa harus  harus minum, maka ia harus minum es yg dijual dipinggingr jalan, tetapi ia tahu bahwa es yang dijual di pinggir jalan tidak hygiene-- terjadi disonansi

Festinger mengemukakan bahwa elemen-elemen dalam kognitif memiliki 3 hubungan :
a. Hubungan yang tidak relevan
Elemen kognisi satu tidak ada hubungan yang relevan dengan elemen  kognitif yang lain.
Misal : elemen koginitif I    ingin memiliki baju baru dan bernilai tinggi
            -------“----------- II   ia tahu tetanggannya baru saja pindah rumah
                    ---------- elemen I tidak ada hubungan yang relevan dengan elemen II
b. Hubungan yang disonan
Elemen kognisi yang satu bertentangan dengan elemen kognisi yang lainnya.
Misal : elemen kognisi I  ingin memiliki baju baru dan bernilai tinggi
            Elemen kognisi II  tidak memiliki uang yang cukup
            Elemen  I     saya setuju pelestarian lingkungan
            Elemen  II   ia mengendarai mobil yang mengeluarkan asap banyak dan hitam
            -------------- terjadi disonan
c. Hubungan yang kosonan
Elemen kognisi yang satu dengan yang lain ada hubungan yang relevan.
Misal : Elemen I    ingin memiliki baju baru dan bernilai tinggi
            Elemen II   ia mempunyai uang yang cukup
Keadaan disonansi kognitif akan membawa ketidakenakan yang menimbulkan ketidakenakan dan ketegangan psikologis

Ada 3 cara untuk mengurangi DISONANSI- untu menjadi KONSONAN

1. Merubah unsur kognitif yang bersifat perilaku
Bila perbuatan  disonan dengan kepercayaan, akan lebih mudah untuk merubah perbuatan.
Misal : Tahu bahwa membeli togel  haram. Tetapi perbuatannya adalah membeli togel  disonan
Untuk menjadi konsonan maka  perubahan tingkahlaku yaitu tidak membeli togel
2. Merubah unsur kognitif dari lingkungan
Misalnya terjadi disonani antara pengetahuan mengenai kanker yang disebabkan oleh rokok dengan kesukaannya merokok maka individu dapat merubah faktor lingkungan dengan tetap merokok tetapi rokok yang ada filternya. Atau ia mencari dukungan dari orang lain yang dapat memperkuat argumentasinya bahwa rokok tidak pernah menyebabkan kanker paru.
3. Menambah unsur kognitif baru
Misal : seseorang telah membeli baju baru kemudian mengetahui bahwa di toko lain harganya jauh lebih murah mengalami disonan. Untuk menghilangkan disonan dengan menambah unsur kognitif baru yaitu keyakinan lain bahwa baju yg telah dibeli pasti yang asli dan yang dijual murah tadi pasti keliru memasang label harga.


TEORI TIGA PROSES PERUBAHAN KELMAN
Teori ini sangat relevan dengan permaslaan pengubahan sikap manusia.
Kelman menyebutkan  ada # proses sosial yang berperan dalam proses perubahan sikap yaitu :
1. Kesediaan (compliance)
Kesediaan adalah ketika individu bersedia menerima pengaruh dari orang lain atau dari kelompok lain dikarenakan ia berharap untuk memperoleh reaksi atau tanggapan positif dari pihak lain tersebut
Kesedian menerima pengaruh fihak lain - biasanya tidak berasal dari hati kecil seseorang
Tetapi merupakan cara untuk sekedar memperoleh reaksi positif seperti pujian, dukungan, simpati dan menghindari hal-hal dianggap negatif
Misal :  kita “harus” ikut  tertawa ketika mendengar orang menceritakan hal yg lucu meskipun kita tidak merasakan adanya kelucuan sama sekali.
2. Identifikasi
Proses identifikasi terjadi apabila indiv meniru perilaku atau sikap orang lain atau kelompok karen sikap tersebut sesuai dengan apa yang dianggapnya sebagai bentuk hubungan yg menyenangkan diantar kedua belah pihak
Identifikasai  cara untuk memelihara hubungan , meskipun sikap yang ditiru itu belum tentu sesuai dan memuaskan bagi individu yg bersangkutan.
3. Internalisasi
Terjadi apabila individu menerima pengaruh dan bersedia bersikap menuruti pengaruh itu dikarenakan sikap tersebut sesuai dengan apa yg dipercayai dan sesuai dengan sistem nilai yang dianutnya.


Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan sikap:
Gerungan mengemukakan perubahan sikap tergantung :
1. Adanya informasi baru yang relevan dengan obyek sikap.
Informasi baru ini akan menambah dan merubah isi kognitif  sehingga akan merubah sikap.
2.    Derajad perasaan terhadap obyek.
       Darajat sikap yang masih rendah dalam skala sikap  maka akan mudah diubah.

Azwar mengemukakan bahwa sikap dapat dirubah  bagaimana cara menambah informasi baru. faktor komunikasi sangat penting  ( Hovland).
Komunikasi yang penting adalah komunikasi persuasi .
Satu faktor penting dalam komunikasi adalah Komunikatornya.
Komunikator   harus memeilki kredibilitas artinya orang yang memiliki keahlian dibidangnya, orang yang mengetahui dan menguasi bidangnya..
                       komunikator harus memiliki daya tarik (baik fisik , cara menyampaikan isi)
                       memiliki power (kekuasaan)


SUATU MODEL KOMUNIKASI PERSUASIF UNTUK PERUBAHAN SIKAP

Hovland beranggapan bahwa efek suatu komunikasi tertentu akan tergantung pada sejauhmana komunikasi itui diperhatikan, dipahami dan diterima.

McGruire mengemukakan bahwa perubahan pendapat atau perubahan sikap merupakan fungsi interaksi antara probabilitas terjadinya pemahaman dan probabilitas diterimanya isi yang dipahami oleh subyek.  Hal dapat dirumuskan :
     
                      P (O)    = p( R) p(Y)

P (O)   =  kemungkinan perubahan pendapat
P (R)   =  kemungkinan adanya pemahaman yang efektif
P (Y)   = kemungkinan menerima apa yang dipahami.

McGruire menambah pula bahwa dalam proses persuasi terdapat  langkah lanjutan yaitu retensi atau pengendapan. Lebih jelas dalam baga dibawah ini:

 Variabel yg mempengaruhi                 proses                      efek komunikasi yg tampak
























Baron dan Byrne mengemukakanmengemukakan bahwa hasil riset mengenai persuasi dengan pendekatan tradisional ternyata kompleks dan tidak konsisten.
a. para ahli akan lebih persiuasif dibandingkan dengan orang yang bukan ahli.
Penyampai pesan seorang lain di bidangnya - lebih persuasif
b. pesan yang ditujukan untuk mengubah sikap tanpa kentara biasanya lebih berhasil daripada pesan yg tampak jelas berusaha memanipulasi kita
c. inilah yg menjadi dasar dari sof sell dlm dunia bisnis. Misal “ kepuasan anda adalah tujuan utama kami”
d. individu yang memiliki harga diri rendah akan lebih mudah terbujuk
e. Bila individu yg menjadi sasaran memiliki sikap bertentangan dengan sikap para calon pelaku persuasi  maka akan lebihefektif bagi komunikator untuk melakukan pendekatan dua sisi (two sided approach) yg menyajikan pandangan kedua belah pihak daripada pendekatan satu sisi
f. Persuasi dapat diperkaya oleh pesan-pesan yg membangkitkan emosi kuat (khususnya emosi takut) dalam diri orang.

PENGUKURAN SIKAP
A. SECARA LANGSUNG
     Bertanya langsung pada individu tentang sikapnya terhadap sesuatu masalah.
B. LANGSUNG TERSTRUKTUR
     Cara ini dengan menggunakan pertanyaan-2 yang telah disusun dalam suatu alat ukur yang disebut skala
1. Skala Bogardus
Menyusun pertanyaan berdasrkan jarak sosial
Seseorang dari suatu golongan dihadapkan pada suatu golongan tertentu.
Contoh:
a. apakah saudara menerima kulit hitam sbg warga di negeri ini ?
b. apakah saudara menerima orang hitam bekerja di kantor saudara?
c. Apakah saudara menerima orang hitan sebagai teman se klub?
d. Apakah saudara menerima orang hitam menjadi tetangga saudara?
e. Apakah saudara menerima orang hitam kawin dengan saudara?
2. skala Likert
Responden diberi pernyataan-2 dengan kategori jawaban yang telah dituliskan dan pada umumnya bergerak dari sangat tidak setuju sampai sangat setuju

          STS            KS            TS               S                   SS
Skor    1                2               3                 4                     5              pernyataan favorable
            5               4               3                 2                     1              penyataan unfavorable
       
       
STS = Sangat tidak setuju
KS = Kurang setuju
TS   =   Tidak setuju
S     =   Setuju
SS     =   Sangat Setuju

Pada prinsipnya pengukuran sikap ddilakukan dengan menggunakan daftar pertanyaan tentang obyek.

Fishbein dan Ajzen mengemukakan bahwa pengukuran sikap yang baik sehingga dapat memperkirakan perilaku adalah memasukkan empat faktor yaitu target, perilaku, context dan waktu

Misalnya mengukur sikap keagamaan dan seberapa jauh hubungan dengan perilaku nyata  adalah “ apakah anda akan membayar zakat”, bukan dengan pertanyaan tentan “ apakah anda senang sebagai muslim?”

Dalam pertanyaan tersebut terkandung niat atau intensi untuk bertingkah laku ttt dalam context dan waktu ttt.
Mengukur sikap sama dengan mengukur perilaku itu sendiri

Sebaliknya, suatu perilaku jika berulang dalam context yang sama pada waktu yang berbeda-beda akan menunjukkan sikap terhadap target bukan perilaku.


PRASANGKA  SOSIAL

Prasangka sosial  merupakan perasaan orang terhadap individu tertentu atau kelompok tertentu ( ras, jenis kelamin tertentu., kebudayaan tertentu dsb).

Prasangka sosial  terdiri sikap-sikap negatif ( meskipun mungkin ada sikap positif) terhadap golongan lain. Sikap ini lambat laun akan menyatakan diri dalam tindakan-tindakan yang diskriminatif terhadap golongan yang diprasangkai tanpa alasan yang obyektif.

Komponen prasangka  :

Kognitif   berisi stereotipe
Afektif     emosi negatif
Konatif    tendensi untuk bertindak negatif kearah seseoran atau kelompok antara lain dalam
                    Bentuk tindakan diskriminasi.

Stereotipe
 tanggapan, gambaran, pandangan, keyakinan tertentu mengenai sifat dan watak pribadi orang,   golongan lain yang bercorak negatif

terjadinya stereotipe  sesuai dengan prinsisp heuristics bahwa orang cenderung untu berfikir jalan pintas untuk mengefisienkan proses dalam kognisi seseorang sehingga tidak perlu lagi berfikir rterlalu sulit ddan lama sebelum berekasi terhadao orang lain.
Oleh karena itu stereotipoe terbentuk hanya berdasarkan pada keteranga-keterangan yang kurang lengkap dan sangat subyektif.

Stereopite : Orang kulit putih terhadap  orang kulit hitam   bodoh, miskin, suka kekerasan dll
                   Orang USA terhadap Orang Islam   teroris

Gambaran sterotipe tidak mudah berubah serta cenderung dipertahankan oleh orang yang berprasangka. Hal ini karena dalam kognisi seseorang telah terbentuk skema atau kategori-kategori dan sekali skema terbentuk cenderung hanya menerima informasi yang sesuai dengan skema yang telah ada dan menolak yang tidak sesuai dengan skema ( O’Sullivan dan Durso)


TERBENTUKNYA PRASANGKA

1. Melalui interaksi Sosial
a. Konflik langsung antar Kelompok
Konflik ini dipicu dengan adanya kefanatifkan terhadap kelompok dalam situasi kompetisi.
Eksperiment yang dilakukan oleh Sheriff dkk
Membagi kelompok menjadi dua. Segera setelah terbentuk kelompok, ternyata anggota pada masing-masing kelompok mengembangkan perasaan keikatan yang kuat pada kelompoknya.
Setelah itu diadakan perlombaan (situasi kompetisi).  pada situasi kompetisi inilah tampak jelas masing-masing kelompok saling memandang kelompok lain secara negatif atau lebih rendah.
 
b.  Kecenderungan orang untuk membuat kategorisasi sosial ( in group dan out group)
Sering orang mengelompokan lingkungan sosial dalam kategori “kita dan “mereka” atau dalam  “ in group “ dan “out group”
Mereka yang termasuk in group ( kita) akan memandang dirinya sendiri sangat favorabel sedang akan memandang orang yang ada di out group secara negatif.
Perasaan/sikap negatif yang diatribusikan pada anggota out group  tidak berdasarkan informasi yang obyektif  sehingga dapat muncul stereotipe  Prejudice.




















2. Faktor  Kepribadian

Menurut penelitian  orang yang bercirikan : tidak toleransi, kurang mengenal diri sendiri, tidak merasa a,man, memumpuk khayalan agresi, aoutritarian  mudah berprangsaka meskipun hasil tersebut belum menunjukkan kekonsistenan.


3.   Faktor kepentingan dan ketidak adilan
Perlakuan-perlakuan uang tidak adil dari pihak tertentu karena adanya kepentingan tertentu akan memicu tumbuhnya  prasangka.

4. Ketidak insafan akan kerugian-kerugian akibat prasangka dan konflik

5. Mass media

Pengukuran Prangsaka Sosial :
Yang terkenal adalah metode BOGARDUS yaitu tentang Jarak sosial interaksi kulit putih terfhadap kulit hitam..




Bentuk skalanya adalah :
1. Apakah saudara bersedia menikah dengan orang kulit hitam         ya            tidak
2. Apakah saudara bersedia bila orang kulit hitam menjadi tetangga saudara          ya            tidak
3. Apakah saudar bersedia bila orang kulit hitam mejadi anggota dalm klub  sdr    ya            tidak
4. Apakah saudara bersedia bila or. Kulit hitam menjadi  teman sekerja                  ya            tidak
5. Apakah saudara bersedia bila or. Kulit hitam menjadi warga negara kita             ya            tidak

kalau di lihat dari skala tersebut.  Dari no 5 ke no 1 kualitas/ intensitas interaksi sosial semakin kuat.


MENGATASI
-     Komunikasi lebih diintensifkan antar kelompok. Termasuk juga interaksi.
- Perlakuan yang membawa keadilan bersama
- Perlakuan-perlakuan dalam memberi reward dan punishment  kepada anak oleh orang tua. Semua sikap dan tindakan Orang tua menjadi model bagi anak..






























PENGARUH-PENGARUH SOSIAL

Social Influence (pengaruh sosial) banyak sebali bentuknya, yang antara lain yang akan kita bicarakan adalah  :
1. Konformitas
2. Coplience ( kerelaan )
3. Obedience ( kepatuhan )


KOMFORMITY (KONFORMITAS)
 perubahan tingkah laku individu yang diarahkan untuk mengikuti, untuk diterima oleh staradrd atau norma sosial atau  oleh kelompok.

Contoh :
Seorang mahsiswa baru,  pada hari pertama masuk kuliah ia memakai kaos, celana jeans dan sepatu kets. Begitu masuk ruangan kulian teman-teman kuliah ternyata memakai baju hem dan berdasi. Akhirnya begitu esoknya ada kuliah ia memakai kemeja dan dasi.
 orang lain/teman-temannya tidak pernah menyuruhnya.

Remaja  untuk dapat diterima oleh kelompoknya maka ia mengikuti aturan, nilai yang dianut oleh kelompoknya. Teman kelompok gondrong juga ikut gondrong.


Dasar Komformitas

Baron dan Byrne mengemukakan bahwa ada tendensi kita untuk melakukan konfomitas adalah :

1.  Past  reinforcement for conforming
Pengalaman masa lampau kita tentang reinforcemet yang diberikan orang tua atau guru serta orang dewasa lainnya ketika kita memiliki pandangan yang selaras dengan mereka, bertingkah laku yang sesuai dengan harapan mereka.

6. Process  of social comparison
Bahwa manusia memiliki kecenderungan yang kuat untuk mengevaluasi pendapatnya, kemampuannya dengan orang lain. Orang lain  sebagai dasar untuk pengetahuan. Seseorang akan akan mengevaluasi sikap dan traits-2 dengan membandingkan dengan orang lain  dalam social comparion.

Mengapa terjadi komformitas ?

Dalam interaksi dengan sosial, maka kita mempunyai 2 bentuk informasi tetang dunia sekitar kita yaitu :
1. Personal information
Realitas fisik kita, pengalaman diri sendiri, pengetahuan kita tentang kehidupan dan timngkah laku kita sendiri.


2. Social information
Diperoleh dari orang lain.
Pengaruh sosial  yang digunakan  oleh anggota kelompok  dibedakan dalam 2 komponen pengaruh  sosial yaitu :

a.   Normative   social  influence .
Meliputi tingkah laku apa yang diharapkan , diterima dan diberi reward kelompok.
 tingkah laku berubah untuk memperoleh penerimaan dan mendapat persetujuan dari orang lain/kelompok. Tendensi untuk konform pada apa harapan-haparan positif oarng lain. Kita konform karena kita ingin bertingkah laku speerti apa yang diharapkan orang lain pada kita.
 
     b.   Informational social influence
Tingkah laku orang lain sebagai sumber informasi dan akan digunakan sebagai guide/petunjuk untuk memahami dunia sekitarnya sehingga indivdiu adapat bertindak secara lebih efekti, akurat dan benar.
Faktor –faktor yang mempengaruhi konformitas  :
1. Daya tarik (attraaction)
2. Ukuran kelompok
3. Kepribadian
ad.1.   Daya tarik kelompok
Konformitas  cenderung diarahkan pada kelompok yang kita suka, yang kita ingin gabung dan dengan siapa kita ingin membandingkan diri kemudian kita ingin sama. Kelompok dimana kita membandingkan diri, kita arahkan konformitas kita disebut kelompok preferensi. Biasanya kelompok preferensi ini memiliki kesamaan-kesamaan dalam hal tertentu sehingga ia ingin gabung.
ad.2.   Ukuran kelompok
Ada asumsi bahwa kemakin besar kelompok semakin tinggi konformitasnya. Pendapat ini ternyata tidak benar. Hasil penelitian Gerard, Wilhelmy dan Conolley menemukan bahwa jumlah kelompok lebih dari 5 orang tidak dapat meningkatkan konformitas.
Hal ini karena  ketika anggota kelompok semakin besar, maka ada kecurigaan bahwa anggota kelompok lain saling sekutu untuk mempengaruhi indivdu juga juga  anggota kelompok tersebut. Disamping itu semakin besar anggota kelompok juga semakin rendah interaksinya.

                   Komformitas terus
                   Meningkat terus              
 k                                                   Sumber pengaruh
 o                                                  Dipandang sebagai
 m                                                    Berdiri sendiri/independent
f
 o
r                                                           Sumber pengaruh dipandang sebagai
 m                                                                                Saling kerja sama/kolusi untuk
 i                                                                                 Membujuk untuk konformitas
  s                                                                          
                                                                                      Konformitas gagal untuk meningkat karena
                                                                                                                       Individu memandang yang lain kolusi

Jumlah anggota kelompok

ad. 3.  Kepribadian
Orang-orang yang memeiliki konsep diri negatif, kemampuan memimpin, inteligensi , self esteem dan orang yang memiliki public self – awareness  akan mudah untuk konformitas.


COMPLIENCE

 kerelaaan orang lain untuk mengikuti keinginan kita

dasarnya  rasa suka

Jika orang lain suka pada kita  mereka akan bersedia untuk mengikuti keinginan kita daripada jika mereka tidak menyukai kita.

 teknik ini disebut dengan  “ ingratiation “
Jones mengemukan usha untuk mempengaruhi orang lain yang pertama dilakukan adalah :
a. meningkatkan rasa suka mereka terhadap diri kita
b. membuka mereka untuk berbagai oermohonan, permintaan.

Cara meningkatkan ketertarikan orang lain pada diri kita:
1. Kita share pendapat mereka  memberi perhatian pendapat-pendapat mereka
2. Menyamakan respek dengan mereka
      asumsinya  similaritas sering menjadi faktor dasar untuk ketertarikan interpersonal.
3. Menunjukkan performance yang terbaik.
Orang yang memeiliki performance tinggi akan dievaluasi lebih favorabel daripada yang memeiliki performance rendah.

Teknik “ingratiation” ini membutuhkan komunikasi interpersonal yang intensif dengan individu target. komunikasinya dengan teknik yang disebut   Other enhancement (  meninggikan atau menyanjung  orang lain ) cara dengan memberikan rayuan yang melebih-lebihkan, hadiah yang tidak semestinnya  ( Flattery).


Kita meminta orang lain mengikuti keinginan/permintaan kita dapat melalui teknik “ingratiation” diatas tetapi kita juga dapat melalui teknik “ Multiple Request” (permintaan ganda)
Multiple reguest--- 2 strategi yang sering digunakan adalah :
a. The- foot- in- the- door
b. the door-in-the-face

The-foot-in-the-door
Strategi ini didasari suatu pepetah kuno “ berikan mereka I inci dam mereka akan mengambil 1 mil”.
Teknik ini banyak digunakan oleh para penjual (marketing).
Teknik ini didasri kenyataan bahwa  individu akan memiliki kerelaan untuk mengikuti keinginan kita diawali dari permintaan kita yang kecil  atau yang sepele lebih dahulu, baru kemudia menginjak pada hal yang lebih besar atau yang lebih penting.
Freedman dan Fraser membuktikan bahwa pemilik rumah rumah dapat diyakinkan untuk membeli sesuatu yang lebih besar atau lebih mahal asalkan terlebih dahulu ia dapat diyakinkan untuk menerima atau membeli sesuatu yang kecil dan tidak mahal.
Hal ini berarti bahwa sekali seseorang menerima sesuatu (bersikap positif) maka sikap tersebut akan dipertahankan.

The-door-in –the –face
Teknik ini dimulai dengan permintaan-permintaan yang besar ( yang bagi seseorang hampir pasti ditolak) kemudian ketika ia mau melakukan permintaan kita, kita ganti dengan permintaan yang ringan ( yang bagi seseorang pasti diinginkan).

Suatu eksperimen yang dilakukan Cialdini dimana ia menghendtikan mashasiswa yang selang lewat di jalan untuk menjadi relawan konselor (konselor yang tak dibayar) untuk naka-anak nakal 2 jam setia minggu selama 2 tahun.  diperkirakan tidak ada yang setuju dengan tawaran ini.
Tetapi ternyata ada 50 % responden yang setuju. Hal ini membutikan bahwa the door in-the-face sama suksesnya dengan the foot –in-the door.

Mengapa the-door in the face  sukses.  Ada 2 alasan yaitu :
a. Ketika individu diminta untuk melakukan sesuatu yang berat atau besar kemudian dilanjutkan dengan permintaan yang ringan hal ini dipandang oleh individu yang dimitai tersebut  sebagai konsesi (kelonggaran) dan kemudian mereka merasa derlu membuat konsesi (kelonggaran) yang sama untuk mereka sendiri.

b. Self-presentation
Dalam banyak situasi, kita ingin membuat impresi (kesan) yang baik pada orang lain. Hal ini akan di tampakkan ketika ada permintaan dari orang lain.

Dalam tipe ini, kita mungkin enggan menolak kedua, permintaan yang kecil setelah menolak permintaan besar sebelumnya  karena  hal tersebut akan  menimbulkan negatif self-presentation yaitu  nampak mejadi individu yang unhelpful ( bukan penolong ) dan incosiderate ( tidak baik budi ).


OBEDIENCE
Pengaruh sosia dengan menggunakan tuntutan. Tunduk pada permintaan ( yang mengandung tuntutan ) orang lain.
Banyak dilakukan dalam militer, pelatih olah raga terhadap atletnya, orang tua terhadap anaknya.
Sumber tuntutan berasal dari orang yang memiliki otoritas atau power. Mereka ini memiliki kekuasaan untuk memberi hukuman bagi mereka yang tidak menurut  atau melaksanakan apa yang diperintahkan.

Karena ada unsur hukuman  maka orang yang tidak memiliki powerpun dapat meneutut orang lain untuk melaksanakan keinginannya dengan menggunakan tindakan-tidakan yang membehayan dan destruktif dan ancaman.



TINGKAH LAKU PROSOSIAL

Tingkah laku Prososial adalah tingkah laku yang dilakukan untuk memberi  sumbangan untuk kesejahteraan orang lain.
Yang termasuk tingkah laku Prososial adalah : altruism, kooperasi, friendship, helping, sharing dsb.

Pada pembahasan ini lebih ditetakan pada tingkah laku membantu/helping  yaitu tingkah laku yang dilakukan untuk membantu orang lain tanpa menghiraukan alasan-alasan .
Altruism  tingkah laku yang tanpa pamrih yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan orang lain yang menerimannya.

Apakah tingkah laku prososial  ditentukan sebelumnya secara biologis ?

   *  Perspektif Sosiobiologis
Wilson (ahli sosiobiologis)  berpendapat bahwa tingkah laku sosial manusia sitentukan secara biologis.

Sosiobiologi mendasarkan pada 2 asumsi ( Cunningham) :
a. Sebagian besar tingkah laku sosial ditentukan oleh faktor genetik
b. Tingkah laku yang didasarkan secara genetik akan diturunkan pada generasi berikutnya jika mereka menigkatkan reproduksi

   *  Pendekatan  sosiobiologis yang lain dikemukakan oleh Robert Triver dengan model    Reciprocal  Altruism
Ia  berpendapat  bahwa  tingkah altruism  dilakukan  karena   individu  dengan tanpa pamrih   membatu orang lain akan meningkatkan peluang orang lain akan membantu dirinya ketika dirinya membutuhkan bantuan di masa datang.


       Learning Perspektif.    

   *  Belajar model
Pendapat lain  berpandangan banhwa tingkah laku sosial dipelajari dari orang tua ketika   individu masik kanak-kanak melalui proses sosialisasi
Sosialisasi   proses membentuk tingkah laku individu agar sesuai yang diharapakan cultural dimana inidvidu tersebut hidup.

Orang tua  merupakna faktor yang penting dalam proses sosialisasi ini diman mereka mampu mengajarkan anak-anaknya untuk berperilaku yang diinginkan daan orang tua berperan sebagai model.
        Disamping orang tua, saudara, peer (teman sebaya) juga memeiliki kekuatan pengaruh dalam sosialisasi.
        Sumber lain untuk sosialisasi adalah : media : televisi, radio, film, media cetak.      

   *  Reinforcement dari orang lain
        Anak sering diberi reward untuk tingkah laku membantu, kooperasi dan sharing dengan orang lain.




Artikel Terkait

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

No comments: